Aku tak bermaksud menciptakan duniaku sendiri di tengah megah dunia
kalian. Tapi aku tak berdaya. Setiap goresan luka dan sayatan perih yang
kalian hadiahkan padaku di semua waktu, memaksaku tuk membangun benteng
kokoh yang menghadang setiap kilau gemerlap dunia kalian yang coba
menerobos masuk ke peraduanku. Fatamorgana. Ya… memang hanya sebatas
fatamorgana. Aku hidup dalam khayal bergelut dengan imajiku.
Tapi, di sinilah aku berlari, mencoba mengobati luka dan perih yang
kalian hadiahkan padaku sebagai simbol cinta-kasih kalian yang agung.
Sahabat. Apa pula omong kosong itu, bagiku tak lebih berharga dari kain
rombeng yang telah koyak di setiap sisinya.
Semenit yang lalu kalian belai aku dengan penuh cinta kasih, tapi menit,
jam, hari dan setiap hitungan waktu selanjutnya kalian cerca aku tanpa
kenal ampun. Bagiku semuanya palsu. Begitu juga kasih kalian, hanyalah
sebatas sebuah kedok untuk sebuah gundukan kemunafikan yang berbau
anyir.
Oleh: Felisya Aurora
Merinding. Itulah kata yang mampu terfikirkan olehku untuk mewakili
perasaanku setelah membaca tulisan Feli yang dimuat di Kompas pagi ini.
Aku tak tahu persis apa motivasi Feli saat merangkai kata demi kata yang
tertera di kertas itu. Tapi aku menangkap ada ribuan kemarahan dan
kebencian yang tersembunyi di balik kertas bisu itu. Potongan cerpen
Felin yang aku baca beberapa menit yang lalu benar-benar menyisakan rasa
ngeri dan takut di sudut hatiku. Sepuluh tahun sudah kami bersahabat
tak sekalipun aku temukan kata-kata sekasar itu terselip di
tulisan-tulisan Feli. Adakah Feli sebegitu membenci kami? Benarkah
persahabatan kami telah benar-benar berakhir? Ma’afkan aku Feli.
Ma’afkan kami semua.
Felisya Aurora, gadis periang dan berbakat itu adalah sahabatku. Aku,
Feli, Raisya, Shamita, Regina, Syeila dan Nindia bersahabat sejak kami
masih duduk di bangku SMP. Kami bukan sekedar teman biasa tapi sudah
seperti saudara bahkan mungkin lebih. Sepuluh tahun bukan waktu yang
sebentar, kami telah mengenal pribadi masing-masing. Banyak hal yang
telah kami lalui bersama. Meski satu, dua kali kami dihadapkan pada
suatu konflik atau pertengkaran-pertengkaran kecil kami selalu saja
mampu melewatinya. Kami bertujuh tak pernah terpisahkan karena kami
adalah satu. Dan kami berharap semuanya akan terus berlangsung dengan
indah.
Agaknya benar apa yang dikata orang bijak “tak selamanya angin tak
selalu bertiup sesuai yang dimau oleh awak kapal”. Angan yang kami rajut
telah menembus nirwana tapi ternyata cerita yang digariskan Tuhan untuk
kami tak sejalan. Tiga bulan yang lalu Raisya dan Feli mengalami
kecelakaan mobil. Feli selamat dia hanya menderita luka ringan di
pergelangan tangan kanan dan pelipisnya, tapi tidak dengan Raisya.
Raisya meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit.
Kecelakaan maut itu terjadi saat mereka menghadiri acara reuni SMA
yang diadakan di rumah Nindia. Saat itu Feli yang menyetir, menurut
beberapa saksi mata mobil Feli melaju dengan kecepatan tinggi dan
akhirnya menabrak sebuah tiang listrik karena menghindari tabrakan
dengan sebuah truk. Aku tahu dan kami semua pun tahu kebiasaan Feli yang
suka kebut-kebutan seringkali mencelakai dirinya sendiri bahkan
beberapa di antara kami pun pernah.
Regina, Shamita dan Syeila menyalahkan Feli atas meninggalnya Raisya.
Di hari pemakaman Raisya mereka bertengkar hebat. Makian, cercaan dan
semua kata-kata kasar yang belum pernah aku dengar sebelumnya keluar
dari mulut mereka aku terkejut bukan kepalang. Berbarengan dengan adu
mulut itu ada hal lain yng benar-benar tersentak, sebuah tamparan dari
Nindia mendarat di pipi kanan Feli.
Sejak kejadian itu, semuanya berubah. Tak ada lagi senyum riang yang
menghiasi kebersamaan kami. Yang ada hanya kebekuan. Kami tak pernah
lagi menjumpai Feli yang dulu, dia telah berubah drastis. Tak sekalipun
dia menyapa bila berpapasan dengan kami bahkan dia tak pernah mau
menoleh barang sedetikpun saat aku memanggilnya. Dia seolah membangun
dunia baru yang tak bisa kami masuki. Aku tak tahu harus berbuat apa.
Sepertinya Feli benar-benar membenci kami.
0 komentar:
Posting Komentar